Tuesday, December 29, 2015

Concussion (2015)

Film bertema olahraga harus diakui memiliki pesonanya sendiri di kalangan para penikmat maupun pengamat perfilman. Meski jika menilik peta kekuatan dan perolehan komersial film-film yang ada dari dulu hingga sekarang film-film yang mengangkat tema maupun setting dunia olahraga teramat jarang mampu membukukan hasil yang fantastis, film-film dengan genre ini terbukti mampu menjaring golongan penggemarnya sendiri. Dengan daya tarik seputar kompetisi maupun intrik yang terjadi, baik itu menyangkut para pelaku di lapangannya (atlet, pelatih), maupun di luar lapangannya dan bumbu aksi olahraganya sendiri, terlebih jika kisahnya diangkat dari peristiwa nyata, film-film olahraga sering menjadi film kuda hitam di masa perilisannya.


Menyusul Mcfarland, USA (2015), My All American (2015), Pawn Sacrifice (2014), dan Creed (2015) kini hadir Concussion. Inilah film yang menjadi kiprah kedua aktor papan atas multitalenta Hollywood, Will Smith di tahun 2015, setelah Focus (2015). Ditujukan sebagai Oscar bait, di film terbarunya sang aktor berusaha memperlihatkan kelas kualitas aktingnya dengan melakoni sosok seorang ahli medis forensik yang sangat humanis.


Memainkan sosok dokter berdarah Nigeria yang saat melakukan otopsi gemar memperlakukan jenazah-jenazah yang diperiksanya tidak ubahnya pasien hidup (mengajak berbicara, dan selalu menggunakan pisau bedah yang baru saat melakukan otopsi). Smith dinilai berhasil menghidupkan tokoh ahli forensik ini oleh pengamat perfilman saat Concussion diputar di berbagai festival film internasional. Tidak mengherankan, jika penampilan aktor yang di masa awal kariernya dikenal sebagai Fresh Prince of Bell Air ini kabarnya mendapat lirikan dari para juri Oscar. Film ini sendiri sekaligus menjadi ajang reuni sang aktor dengan salah satu lawan mainnya, Eddie Marsan, pasca keduanya membintangi Hancock (2008).


Alkisah, ketika melakukan proses otopsi terhadap jenazah Mike Webster (David Morse), mantan bintang futbol profesional, Dr. Bennett Omalu (Will Smith) menemukan fakta bahwa di bagian kepala Webster mengalami kerusakan saraf otak yang mirip didapati pada para penderita Alzheimer. Omalu kemudian melakukan penelitian lebih lanjut sebelum ia kemudian menamai hasil temuannya itu Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE) dan menyebarluaskan hasil risetnya itu di sebuah media tentang kesehatan. Seiring makin banyaknya atlet lain yang kemudian hasil diagnosisnya mengalami gejala yang sama, sang dokter mulai menjalani misi untuk meningkatkan kewaspadaan publik mengenai bahaya kerusakan saraf otak akibat benturan kepala yang dialami oleh para pemain futbol profesional. Akan tetapi, perjuangan kerasnya itu membuatnya mendapat tekanan dari badan liga olahraga futbol profesional itu sendiri (NFL) yang berusaha tidak mengindahkan masalah itu dan mengkritisi upaya Omalu. (source: Cinemags Magazine)

No comments:

Post a Comment