Jeffrey Jacob Abrams pernah mengklaim bahwa dia adalah penggemar
berat Star Wars. Dan ketika sutradara nyentrik ini diminta mengarahkan
film Star Trek (yang sering dianggap pesaing tradisional dari Star Wars), dia pun berbuat usil dengan menyisipkan easter egg
robot R2T2 tepat di muka anjungan USS Enterprise. Kenakalan ini pada
akhirnya berbuah spekulasi sekaligus harapan bagi para fans The Force,
yang akhirnya terwujud 6 tahun kemudian.
Saya rasa tidak perlu dipaparkan lagi apa dan seberapa besar Star Wars. Opera angkasa gubahan George Lucas yang berorok di tahun 1977 ini adalah sintensis ambisius antara optimisme penjelajahan ruang angkasa dekade 50-70’an dan spiritualitas Timur Jauh yang mulai digandrungi masyarakat Barat semenjak era Hippies dan Generasi Bunga. Lihat saja elemen cerita seperti “The Force” yang mengadopsi secara lepas konsep Atman (Hindu) dan Qi (China). Pendekatan “Light Side vs Dark Side” juga mengambil konsep “Ahuramazda vs Angromanyu” milik Zoroastrian (walau yang ini bukan dari Timur Jauh). Selain itu Lucas juga mengambil referensi-referensi dari kultur Jepang (Bushido, kostum, “ronin”, hingga “The Hidden Fortress”-nya Kurosawa) sebagai pelengkap. Pada sebelah sisi, Star Wars juga mencerminkan sejauh mana visi Amerika Serikat memandang penjelajahan angkasa dengan kemajuan sains dan teknologi. Setelah misi Apollo yang fenomenal dihentikan oleh NASA tahun 1972, praktis ada sedikit penurunan gairah masyarakat terhadap dunia angkasa luar. Dan mungkin bukan kebetulan bahwa rilis Star Wars: Episode IV - A New Hope (1977) adalah mengambil tahun yang sama ketika misi Voyager (wahana angkasa pertama yang diarahkan untuk mempelajari sudut-sudut terluar Tata Surya) diluncurkan. Keduanya telah membuka cakrawala baru. Dan khusus Star Wars, pada akhirnya merubah alur dan wajah fiksi ilmiah untuk selamanya.
Saya rasa tidak perlu dipaparkan lagi apa dan seberapa besar Star Wars. Opera angkasa gubahan George Lucas yang berorok di tahun 1977 ini adalah sintensis ambisius antara optimisme penjelajahan ruang angkasa dekade 50-70’an dan spiritualitas Timur Jauh yang mulai digandrungi masyarakat Barat semenjak era Hippies dan Generasi Bunga. Lihat saja elemen cerita seperti “The Force” yang mengadopsi secara lepas konsep Atman (Hindu) dan Qi (China). Pendekatan “Light Side vs Dark Side” juga mengambil konsep “Ahuramazda vs Angromanyu” milik Zoroastrian (walau yang ini bukan dari Timur Jauh). Selain itu Lucas juga mengambil referensi-referensi dari kultur Jepang (Bushido, kostum, “ronin”, hingga “The Hidden Fortress”-nya Kurosawa) sebagai pelengkap. Pada sebelah sisi, Star Wars juga mencerminkan sejauh mana visi Amerika Serikat memandang penjelajahan angkasa dengan kemajuan sains dan teknologi. Setelah misi Apollo yang fenomenal dihentikan oleh NASA tahun 1972, praktis ada sedikit penurunan gairah masyarakat terhadap dunia angkasa luar. Dan mungkin bukan kebetulan bahwa rilis Star Wars: Episode IV - A New Hope (1977) adalah mengambil tahun yang sama ketika misi Voyager (wahana angkasa pertama yang diarahkan untuk mempelajari sudut-sudut terluar Tata Surya) diluncurkan. Keduanya telah membuka cakrawala baru. Dan khusus Star Wars, pada akhirnya merubah alur dan wajah fiksi ilmiah untuk selamanya.
Dengan enam film sukses, serial-serial spin-off pilih tanding,
merchandise-merchandise yang solid, serta basis penggemar yang
ultra-fanatik, pekerjaan rumah dan beban seorang J.J. Abrams amatlah
besar untuk merealisasikan episode ke-7 dari saga ini Star Wars: The Force Awakens.
Film berbujet US$ 200 juta ini (kemungkinan besar belum termasuk
biaya promosi) diperkuat oleh aktor lintas pengalaman dan generasi.
Mulai dari yang masih benar-benar hijau seperti Daisy Ridley dan John Boyega, yang sedang menanjak seperti Oscar Isaac dan Adam Driver, para fans service
pemancing sentimen pasar seperti trio The Raid, hingga
dedengkot-dedengkot Perang Bintang yang kembali bersenang-senang
(Harrison Ford, Mark Hamill, dan Carry Fisher). Di sisi naskah, nama
besar Laurence Kasdan dipanggil lagi untuk membantu Abrams dan Bryan Burk. Tentu jangan lupa juga sisi tata musik yang haram jika tidak
memakai langsung sang dedengkot, komposer John Williams. Melihat
komposisi tim yang cukup mantap serta dukungan tak terbatas dari Disney,
akankah The Force Awakens berhasil menjawab ekspetasi?
Kelebihan seorang J.J. Abrams sejak mengolah serial “Lost” adalah
kemampuannya menciptakan interaksi sinematik yang menyenangkan antar
para pemeran yang dikombinasikan dengan naskah cerdas nan bergairah.
Kemampuan inilah yang mungkin membuat betapa hidupnya interaksi dua
aktor yang terhitung masih bau kencur seperti Daisy Ridley dan John Boyega di The Force Awakens. Akting keduanya sangat segar dan alami,
apalagi Nona Ridley. Mustahil untuk tidak cinta dengan Nona Ridley yang
tampil bersemangat (dan berkeringat) dengan senyum menyeringai ala Kiera Knighley. Khusus untuk John Boyega, walaupun tidak semacho Oscar Isaac,
justru memberi keriangan yang simpatik sekaligus optimistik sepanjang
film. Pengembangan karakter mereka bertiga dieksekusi dengan santai dan
matang oleh Abrams. Para pemeran lainnya juga tidak kalah memuaskan.
Interaksi antara Han Solo dan Putri Leia masih tetap enak dilihat
seperti 20 tahun yang lalu. Reputasi Star Wars juga membuat aktor-aktris
bermutu rela untuk sekedar menjadi pemeran tambahan. Siapa yang tidak
kenal Max von Sydow, Lupita Nyoong’o, Simon Pegg, hingga (konon) Daniel Craig. Mereka seolah rela walau cuma mengisi sedikit slot cerita di film
berdurasi 135 menit ini. Tentu jangan lupa juga barisan robot seperti
BB-8, C3PO, hingga R2D2 yang banyak tingkah.
Kredit lebih juga layak diberikan untuk sisi sinematografi dan desain
produksi. Daniel Mindel sebagai sinematografer menggambil pendekatan
tonal yang kontras (dan terkadang agak vivid) pada warna. Hasilnya
menyenangkan mata, seperti pada adegan persiapan para pemberontak
mengendarai X-Fighter di planet D’Qar. Kombinasi warna merah, krem,
hijau, dan, biru cukup pekat, tajam, dan solid. Jangan lupa juga
pengambilan gambar latar lansekap (laut, tebing, pasir, hutan) yang
mantap. Pada desain produksi, Abrams dan Mindel bersikeras untuk
mengedepankan practical model ketimbang CGI untuk menghadirkan
objek seperti markas komando, kapal induk, pesawat tempur, hingga sosok
berbulu emas Chewbaca. Sepertinya Abrams tetap menghormati spirit Roger Christian, sosok yang bertanggung jawab pada desain produksi film-film
Star Wars paling awal. Penggambaran grafis teknologi ala Star Wars juga
tetap dipertahankan. Mulai dan panel-panel pesawat, senjata, hingga user interface kapal Millenium Falcon yang dikendarai Finn dan Rey ketika dikejar-kejar oleh gerombolan pesawat Tie Fighter.
Sisi tata suara juga prima. Bunyi gejedur ledakan hingga suara
mendengung lightsaber berhasil menggetarkan bioskop. Dan yang jarang
disadari, J.J. Abrams sepertinya sengaja mengambil banyak adegan
pertempuran di permukaan planet. Seperti kita tahu, film berbasis ruang
angkasa pasca “Gravity” selalu mengedepankan logika. Secara logika,
suara ala Stuka milik Tie Fighter hingga bunyi ledakan tidak mungkin
terdengar di ruang hampa. Walaupun mustahil dari sisi hiburan untuk
mengikuti “saran ilmiah” tadi (dan tentu bukan Star Wars namanya tanpa
menghadirkan pertempuran angkasa yang berisik), Abrams memberi jawaban
yang cukup moderat. Oh ya jangan lupa John Williams yang tetap
menghadikan aura klasik Star Wars lewat gubahan legendarisnya. (Hayo,
sudah berapa lama anda tidak menonton film aksi/fiksi ilmiah yang
menggunakan orkestrasi akustik murni tanpa efek2 elektronik?)
Pada akhirnya, Star Wars: The Force Awakens adalah sajian yang
cukup menjawab ekspetasi, baik milik para fans ataupun penikmat film
awam seperti saya. Memang ada sedikit plot hole dan
pengembangan sub-cerita yang terlalu tergesa-gesa. Namun secara umum, The Force Awakens adalah permulaan yang solid dari Lucas Film, Disney,
dan Bad Robot Production. The Force Awakens adalah pembuka semesta
sinematik Star Wars generasi baru yang menjanjikan kepuasan penonton
sekaligus pundi-pundi uang yang berlimpah jangka panjang bagi kantong
Tuan Lucas dan petinggi-petinggi Disney. Khusus bagi J.J. Abrams, aksi
capernya sejak Star Trek berbuah manis. Seolah membuka jalan baginya
untuk bertemu mainan baru yang namanya hampir mirip. Bisa dikatakan
Abrams amat menikmati pekerjaannya. The Force Awakens (dan mungkin di
sekuel-sekuel kedepan) adalah bukti sutradara kelahiran 1966 ini sedang
mengerjakan hobi yang menyenangkan, dan dibayar pula. (source: cinemags magazine)

No comments:
Post a Comment