Tuesday, December 29, 2015

Star Wars: The Force Awakens (2015)

Jeffrey Jacob Abrams pernah mengklaim bahwa dia adalah penggemar berat Star Wars. Dan ketika sutradara nyentrik ini diminta mengarahkan film Star Trek (yang sering dianggap pesaing tradisional dari Star Wars), dia pun berbuat usil dengan menyisipkan easter egg robot R2T2 tepat di muka anjungan USS Enterprise. Kenakalan ini pada akhirnya berbuah spekulasi sekaligus harapan bagi para fans The Force, yang akhirnya terwujud 6 tahun kemudian.
Saya rasa tidak perlu dipaparkan lagi apa dan seberapa besar Star Wars. Opera angkasa gubahan George Lucas yang berorok di tahun 1977 ini adalah sintensis ambisius antara optimisme penjelajahan ruang angkasa dekade 50-70’an dan spiritualitas Timur Jauh yang mulai digandrungi masyarakat Barat semenjak era Hippies dan Generasi Bunga. Lihat saja elemen cerita seperti “The Force” yang mengadopsi secara lepas konsep Atman (Hindu) dan Qi (China). Pendekatan “Light Side vs Dark Side” juga mengambil konsep “Ahuramazda vs Angromanyu” milik Zoroastrian (walau yang ini bukan dari Timur Jauh). Selain itu Lucas juga mengambil referensi-referensi dari kultur Jepang (Bushido, kostum, “ronin”, hingga “The Hidden Fortress”-nya Kurosawa) sebagai pelengkap. Pada sebelah sisi, Star Wars juga mencerminkan sejauh mana visi Amerika Serikat memandang penjelajahan angkasa dengan kemajuan sains dan teknologi. Setelah misi Apollo yang fenomenal dihentikan oleh NASA tahun 1972, praktis ada sedikit penurunan gairah masyarakat terhadap dunia angkasa luar. Dan mungkin bukan kebetulan bahwa rilis Star Wars: Episode IV - A New Hope (1977) adalah mengambil tahun yang sama ketika misi Voyager (wahana angkasa pertama yang diarahkan untuk mempelajari sudut-sudut terluar Tata Surya) diluncurkan. Keduanya telah membuka cakrawala baru. Dan khusus Star Wars, pada akhirnya merubah alur dan wajah fiksi ilmiah untuk selamanya.


Dengan enam film sukses, serial-serial spin-off pilih tanding, merchandise-merchandise yang solid, serta basis penggemar yang ultra-fanatik, pekerjaan rumah dan beban seorang J.J. Abrams amatlah besar untuk merealisasikan episode ke-7 dari saga ini Star Wars: The Force Awakens.


Film berbujet US$ 200 juta ini (kemungkinan besar belum termasuk biaya promosi) diperkuat oleh aktor lintas pengalaman dan generasi. Mulai dari yang masih benar-benar hijau seperti Daisy Ridley dan John Boyega, yang sedang menanjak seperti Oscar Isaac dan Adam Driver, para fans service pemancing sentimen pasar seperti trio The Raid, hingga dedengkot-dedengkot Perang Bintang yang kembali bersenang-senang (Harrison Ford, Mark Hamill, dan Carry Fisher). Di sisi naskah, nama besar Laurence Kasdan dipanggil lagi untuk membantu Abrams dan Bryan Burk. Tentu jangan lupa juga sisi tata musik yang haram jika tidak memakai langsung sang dedengkot, komposer John Williams. Melihat komposisi tim yang cukup mantap serta dukungan tak terbatas dari Disney, akankah The Force Awakens berhasil menjawab ekspetasi?


Kelebihan seorang J.J. Abrams sejak mengolah serial “Lost” adalah kemampuannya menciptakan interaksi sinematik yang menyenangkan antar para pemeran yang dikombinasikan dengan naskah cerdas nan bergairah. Kemampuan inilah yang mungkin membuat betapa hidupnya interaksi dua aktor yang terhitung masih bau kencur seperti Daisy Ridley dan John Boyega di The Force Awakens. Akting keduanya sangat segar dan alami, apalagi Nona Ridley. Mustahil untuk tidak cinta dengan Nona Ridley yang tampil bersemangat (dan berkeringat) dengan senyum menyeringai ala Kiera Knighley. Khusus untuk John Boyega, walaupun tidak semacho Oscar Isaac, justru memberi keriangan yang simpatik sekaligus optimistik sepanjang film. Pengembangan karakter mereka bertiga dieksekusi dengan santai dan matang oleh Abrams. Para pemeran lainnya juga tidak kalah memuaskan. Interaksi antara Han Solo dan Putri Leia masih tetap enak dilihat seperti 20 tahun yang lalu. Reputasi Star Wars juga membuat aktor-aktris bermutu rela untuk sekedar menjadi pemeran tambahan. Siapa yang tidak kenal Max von Sydow, Lupita Nyoong’o, Simon Pegg, hingga (konon) Daniel Craig. Mereka seolah rela walau cuma mengisi sedikit slot cerita di film berdurasi 135 menit ini. Tentu jangan lupa juga barisan robot seperti BB-8, C3PO, hingga R2D2 yang banyak tingkah.


Kredit lebih juga layak diberikan untuk sisi sinematografi dan desain produksi. Daniel Mindel sebagai sinematografer menggambil pendekatan tonal yang kontras (dan terkadang agak vivid) pada warna. Hasilnya menyenangkan mata, seperti pada adegan persiapan para pemberontak mengendarai X-Fighter di planet D’Qar. Kombinasi warna merah, krem, hijau, dan, biru cukup pekat, tajam, dan solid. Jangan lupa juga pengambilan gambar latar lansekap (laut, tebing, pasir, hutan) yang mantap. Pada desain produksi, Abrams dan Mindel bersikeras untuk mengedepankan practical model ketimbang CGI untuk menghadirkan objek seperti markas komando, kapal induk, pesawat tempur, hingga sosok berbulu emas Chewbaca. Sepertinya Abrams tetap menghormati spirit Roger Christian, sosok yang bertanggung jawab pada desain produksi film-film Star Wars paling awal. Penggambaran grafis teknologi ala Star Wars juga tetap dipertahankan. Mulai dan panel-panel pesawat, senjata, hingga user interface kapal Millenium Falcon yang dikendarai Finn dan Rey ketika dikejar-kejar oleh gerombolan pesawat Tie Fighter.


Sisi tata suara juga prima. Bunyi gejedur ledakan hingga suara mendengung lightsaber berhasil menggetarkan bioskop. Dan yang jarang disadari, J.J. Abrams sepertinya sengaja mengambil banyak adegan pertempuran di permukaan planet. Seperti kita tahu, film berbasis ruang angkasa pasca “Gravity” selalu mengedepankan logika. Secara logika, suara ala Stuka milik Tie Fighter hingga bunyi ledakan tidak mungkin terdengar di ruang hampa. Walaupun mustahil dari sisi hiburan untuk mengikuti “saran ilmiah” tadi (dan tentu bukan Star Wars namanya tanpa menghadirkan pertempuran angkasa yang berisik), Abrams memberi jawaban yang cukup moderat. Oh ya jangan lupa John Williams yang tetap menghadikan aura klasik Star Wars lewat gubahan legendarisnya. (Hayo, sudah berapa lama anda tidak menonton film aksi/fiksi ilmiah yang menggunakan orkestrasi akustik murni tanpa efek2 elektronik?)


Pada akhirnya, Star Wars: The Force Awakens adalah sajian yang cukup menjawab ekspetasi, baik milik para fans ataupun penikmat film awam seperti saya. Memang ada sedikit plot hole dan pengembangan sub-cerita yang terlalu tergesa-gesa. Namun secara umum, The Force Awakens adalah permulaan yang solid dari Lucas Film, Disney, dan Bad Robot Production. The Force Awakens adalah pembuka semesta sinematik Star Wars generasi baru yang menjanjikan kepuasan penonton sekaligus pundi-pundi uang yang berlimpah jangka panjang bagi kantong Tuan Lucas dan petinggi-petinggi Disney. Khusus bagi J.J. Abrams, aksi capernya sejak Star Trek berbuah manis. Seolah membuka jalan baginya untuk bertemu mainan baru yang namanya hampir mirip. Bisa dikatakan Abrams amat menikmati pekerjaannya. The Force Awakens (dan mungkin di sekuel-sekuel kedepan) adalah bukti sutradara kelahiran 1966 ini sedang mengerjakan hobi yang menyenangkan, dan dibayar pula. (source: cinemags magazine)

No comments:

Post a Comment